Yaristan Palesa Bawakan Materi “Mendengar Suara Perempuan di Lingkar Tambang”

MORUT- Kegiatan pemberdayaan perempuan kembali digelar oleh Pengurus Perempuan Sinode GKST Tentena di GKST Pniel Mohoni, Kecamatan Petasia Timur, Jumat (24/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Morowali Utara, Yaristan Palesa, SH hadir membawakan materi berjudul “Mendengar Suara Perempuan di Lingkar Tambang.”

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus wadah menyampaikan aspirasi perempuan yang hidup di wilayah sekitar pertambangan.

Sebagai kader Partai Golkar Morowali Utara, Yaristan menekankan pentingnya perhatian terhadap suara perempuan yang selama ini terdampak langsung perubahan lingkungan dan sosial.

Ketua Persekutuan Perempuan Sinode GKST, Bertha Lasampa, S.Th, mengungkapkan bahwa perempuan di lingkar tambang menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari sektor pertanian hingga kondisi ekonomi keluarga.

Ia menjelaskan, banyak perempuan yang sebelumnya menggantungkan hidup pada sawah dan kebun kini kehilangan mata pencaharian karena lahan tidak lagi dapat diolah akibat tanah merah dari aktivitas tambang.

Selain itu, perubahan kondisi sungai membuat masyarakat tidak lagi bisa memancing, bahkan aktivitas menjual hasil laut seperti meti turut terdampak karena kandungan pasir yang meningkat.

Tak hanya ekonomi, dampak sosial dan kesehatan juga menjadi sorotan. Kasus penyakit ISPA meningkat, sementara arus pendatang ke wilayah tambang turut memunculkan kekhawatiran terkait kasus pelecehan seksual.

Korban banjir bandang juga memberikan kesaksian mengenai belum optimalnya reklamasi lahan pascatambang, yang memperparah risiko bencana bagi masyarakat.

Harapan pada Dukungan Pemerintah
Melalui forum ini, perempuan di lingkar tambang menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih, terutama dalam mempermudah perizinan usaha bagi perempuan yang ingin bangkit secara ekonomi.

“Yang pasti bahwa perempuan dilingkar tambang itu menyuarakan bahwa kepentingan perempuan itu diberikan perhatian. Mereka harus diberikan support oleh pemerintah, karna mereka mau membuat izin usaha sangat susah sekali, paling tidak pemerintah permudah sedikit,”ujar Pdt Bertha Lasampa

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat sinergi gereja, masyarakat, dan pemerintah dalam memastikan suara perempuan tidak lagi terpinggirkan di tengah geliat industri pertambangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *